Uncategorized

Pendidikan Balas Budi Era Kolinial Dan Kampus Modern

Nggak ada makan siang gratis. Salah satu manfaat dari pendidikan adalah untuk mencetak sebanyak mungkin kuli berpendidikan buat kepentingan Belanda. Yang bener aje, masa sih yang ngetik undangan rapat Wong Londo, yang bikin laporan keuangan Wong Londo, yang ngerjain berbagai tugas clerk itu masa sih Wong Londo?

Maka, mereka pun mendirikan dua kampus terkenal, yaitu “Technische Hoogeschool te Bandoeng” yang nantinya berubah nama jadi “Tut Tek Dung” alias ITB, dan “School tot Opleiding van Indische Artsen” yang nantinya akan berganti nama jadi UI.

Jurusan yang pertama kali dibuka di “TH te Bandoeng” adalah Teknik Sipil dan Teknik Kimia. Kenapa? Wong Londo butuh mencetak “bricoleur”, bukan “engineer”, dari kedua jurusan tersebut, yaitu para bricoleur Teknik Sipil untuk membangun jembatan dan jalanan serta berbagai infrastruktur lainnya, kemudian bricoleur Teknik Kimia untuk mengolah tebu jadi gula, dan berbagai komoditi hasil bumi lainnya dari tanah harapan nan gemah ripah loh jinawi ini.

Sedangkan dari STOVIA, mereka butuh mantri tukang suntik, bukan dokter, untuk menangani masalah kesehatan di Hindia Belanda. Maklum, sebagai negeri yang berada di daerah tropis, virus dan bakteri mendapatkan tanah impiannya di sini, dan jangan sampai itu menular juga ke kalangan Wong Londo.

Gak percaya? Tanyain para dokter kenalan Anda. Istri saya aja, yang lagi kuliah S3 di Negeri Kincir Angin sono cerita bahwa banyak tulisan ilmiah kedokteran dari Indonesia yang masuk ke jurnal mentereng, sering mendapat sitasi yang tinggi dari para peneliti lainnya.

Kalau baca buku Foucault yang berjudul “History of Madness”, kita bakal heran bahwa penyakit kusta itu hilang dari Eropa di Abad Pertengahan, sementara di Indonesia masih mendapatkan eksistensinya. Di luar sono, buku influenza bisa setebal bantal, karena itu penyakit rutin yang bisa bikin mereka payah menghadapinya. Sementara di sini, di masyarakat kita, itu penyakit yang cukup diobati dengan obat yang bisa dibeli di warung pinggir jalan atau di berbagai gang sempit.

Makanya, jangan heran kalau ‘grant penelitian’ dalam bidang kedokteran dari luar sono itu jor-joran. Mereka minta orang sini meneliti berbagai penyakit yang subur berkembang biak di negeri ini, lalu laporannya diberikan kepada mereka, lalu mereka olah untuk jadi obat yang bisa dijual lagi ke sini. Ya iya lah, dari masa Bang Haji Rhoma Irama masih nyanyiin lagu “135 juta penduduk Indonesia”, kini jumlah penduduk Indonesia sudah hampir mencapai dua kali lipatnya. Pangsa pasar bo’… Masa elo nggak ngiler sih?

Kenapa Wong Londo gak buka jurusan humaniora?

Eh, elo, ngomong yang bener ya! Nanya yang nggak nggak aja! Elo tau nggak, kalau itu bumi putera dikasih pendidikan humaniora, mereka akan mengenal ide-ide tentang kemanusiaan, kemerdekaan, kesetaraan manusia, demokrasi, kebebasan berpikir dan lain sebagainya. Mendingan mereka dikasih pendidikan buat jadi bricoleur dan mantri tukang suntik aja, biar pikiran mereka lurus dan cenderung kaku serta nggak mikirin yang lain.

Tapi, gimana ya. Para mahasiswa di TH te Bandoeng dan STOVIA itu ternyata bandel nggak ketulungan. Mereka baca-baca juga buku humaniora yang memberi mereka pencerahan, lalu bikin gerakan penyadaran akan kemerdekaan. Dari mulai Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Soempah Pemoeda dan hingga Perang Kemerdekaan.

Ada hal yang gila terkait Soempah Pemoeda yang bikin Om Benedict Anderson geleng-geleng kepala. Ini Hindia Belanda kan terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa. Bahasa daerahnya aja ada 600an. Mereka memiliki sejarah kerajaan masing-masing. Tapi, di tahun 1928, itu para mahasiswa bandel yang suka baca buku di luar teks kuliahan, menyatakan dirinya sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Mereka bisa menetapkan bahasa Melayu sebagai basis awal bahasa Indonesia tanpa perlu ada perang dari tiap etnis untuk ngotot mengajukan bahasanya sebagai bahasa nasional.

Tinggalkan Balasan

Solve : *
3 × 27 =